WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Selasa, 22 Desember 2015

Bisakah kalian bercerita tentang bagaimana hujan membasahi bumi?

  Bisakah kalian bercerita tentang bagaimana hujan membasahi bumi? Bagaimana partikel-partikel air menumpuk pada gumpalan awan yang kemudian kita sebut dengan mendung? Bagaimana proses fotosintesis yang membutuhkan karbon dioksida untuk menghasilkan oksigen? Bagaimana proses penyempurnaan suatu larutan untuk mendapatkan larutan murni?
            Setelah menduduki bangku kuliah, aku menyadari bahwa semua hal di dunia ini harus melalui sebuah proses dan tidak semua proses terasa mudah. Melalui proses fotosintesis, tanaman menyerap air, garam, mineral, karbon dioksida dan pupuk sebagai katalis. Setelah itu tanaman ‘memasak’ bahan-bahan tersebut di daun yang mengandung klorofil lalu dengan bantuan cahaya matahari, bergantilah karbon dioksida menjadi oksigen. Itulah mengapa kita selalu merasa sejuk jika berada di bawah pohon. Selain teduh, pepohonan juga memberikan oksigen pada kita.
            Seperti itulah proses hidup. Panjang, penuh lika-liku, dan harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Sebagaimana jantung yang tidak pernah lelah berdetak. Semangat yang kita milikipun tidak boleh berhenti berkobar karena jika semangat itu sudah hilang, untuk apalagi kita hidup?
              Saat ini aku sedang berada di dalam kamar dan menatap ke arah jendela. Tampaklah gumpalan-gumpalan awan putih bergelayut manja di langit. Terlihat indah, bukan? Apakah kamu pernah merasa sedamai ini saat melihat awan? Apakah ketika kamu melihat langit, kamu akan teringat padaku? Pada semua kenangan yang pernah kita miliki?
              Aku menerawang jauh dan mengulang kembali pertemuanku denganmu.
***
Tujuh tahun yang lalu.....
Aku berjalan sambil menunduk menandakan ketidaknyamananku pada lingkungan yang baru. Ya. Tidak terasa sekarang aku sudah menginjakkan kaki ke sekolah baruku, sebuah sekolah swasta yang terkenal di kotaku. Setelah melalui Masa Orientasi Siswa (MOS) yang sangat melelahkan selama tiga hari, akhirnya aku resmi menjadi siswi berseragam putih abu-abu. Aku menari-nari girang saat mematut diri di depan cermin dengan seragam sekolah baruku.
            Tidak banyak hal yang bisa kuceritakan, namun ada seseorang yang sejak awal menarik perhatianku. Dia tidak terlihat istimewa. Hanya seorang siswa dengan perawakan tinggi, besar, berkacamata, bersuara rendah, dan memiliki senyum yang juga terlihat biasa. Aku sendiri tidak bisa menjabarkan apa yang membuatku merasa tertarik padanya. Yang kutau, aku selalu ingin menatapnya. Orang itu adalah kamu, Radit.
              Masihkah kamu mengingat pertemuan pertama kita sebagaimana aku yang tidak pernah melupakan wajahmu kala itu?
              Aku tidak pernah melupakan nama itu. Muhammad Raditya Pascal. Itulah yang kamu sebutkan saat perkenalan pertama di kelas kita. Beberapa orang memanggilmu Pascal tetapi aku lebih suka memanggilmu Radit. Jangan tanyakan mengapa karena aku sendiri tidak tahu.
              Tahukah kamu apa kesan pertamaku saat melihatmu?
              Takut. Ya. Mungkin kamu akan tertawa mendengarnya tapi aku memang terlihat takut karena badanmu yang tinggi menjulang, besar, dan wajahmu termasuk menyeramkan kala itu. Sekarang aku sedang tersenyum mengingat betapa jahatnya aku menganggapmu menyeramkan. Mungkinkah kamu akan membaca ini dan juga tersenyum seperti aku?
              Lalu mulailah hari-hari sekolah aku lalui bersama kelas baruku, bersamamu.
              Pada awalnya, aku tidak mengerti kenapa semua orang terlihat dekat denganmu mengingat wajahmu yang terlihat galak. Kita tidak pernah berbicara walaupun sekelas kan? Namun, setelah beberapa bulan saling mengenal, akhirnya aku mengerti mengapa mereka begitu dekat denganmu karena akupun merasakan hal yang sama saat aku bersamamu. Perlahan namun pasti, aku menyadari aku mulai menyayangimu, lebih dari seorang teman. Tapi kamu jangan khawatir. Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan duduk diam memperhatikanmu dari kejauhan karena sesungguhnya mencintai dalam diam adalah hal yang menyenangkan bagiku.
              Tapi Tuhan berkata lain.
              Aku sudah berusaha keras untuk tidak ‘terlihat’ dimatamu karena aku tau, setiap kali aku berbicara denganmu, melihat wajahmu, dan mendengar suara tawamu, hal yang paling aku inginkan adalah memilikimu dan aku tidak bisa melakukannya. Namun, kamu terkesan seolah sedang mendekat padaku. Bagaimana bisa aku mencintaimu dalam diam ketika kamu terus saja berada di sekitarku?
              Setelah melalui proses yang panjang dan melelahkan, kita akhirnya bersama, kan? Taukah kamu betapa bersyukurnya aku bisa bersamamu? Setelah berbulan-bulan aku menatapmu dalam keheningan, aku akhirnya bisa benar-benar bertatapan dengan kedua bola matamu dan mendapati ada cinta di sana.
              Radit, ingatkah kamu ada seorang temanmu yang tidak menyukai kebersamaan kita? Rasanya, kebersamaan kita terlalu banyak rintangan, namun itulah alasan mengapa aku tidak bisa melepasmu. Aku dan kamu sudah terlalu banyak berjuang dan rasanya menyakitkan ketika akhirnya kamu menyerah pada orang yang sebenarnya tidak pantas mengurus urusanmu.
              Aku ingat saat aku jatuh pingsan di sekolah dan kamu ada disana menemaniku. Aku bahkan masih mengingat wajahmu yang di balut dengan kekhawatiran. Jangan khawatir. Jangan bersedih. Aku tidak bisa melihat binar di matamu meredup, terlebih karena aku. Tidak perlu terlalu melindungiku, Radit. Aku bisa menjaga diriku.
              Ingatkah saat kamu selalu saja terlihat jahil dan menyebalkan di saat kita mengobrol ? Aku ingin sekali menggilasmu saat itu. Tapi di saat yang sama, kamu juga satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. Kamu selayaknya pelangi yang mewarnai hidupku dengan warna-warni yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Singkat kata, aku sangat bahagia bersamamu.
              Namun, lagi-lagi Tuhan berkata lain. Setahun setelah awal perjumpaan kita, di saat aku dan kamu sudah benar-benar saling menyayangi, saling memahami, dan mencoba untuk saling menerima satu sama lain, Tuhan memisahkan kita.
              Menurutmu apa yang aku rasakan? Sedih? Marah? Benci? Kecewa? Frustasi?
              Aku bahkan tidak tau apa yang saat itu aku rasakan. Yang kutau, aku menangis bersamamu. Semua terasa tidak nyata. Lalu untuk apa selama ini kita bertahan? Untuk apa selama ini kita bersama jika akhirnya semua harus di akhiri? Untuk apa aku bertahan ketika semua orang berusaha menjatuhkan aku? Berusaha menjauhkan aku darimu? Terkadang, aku tidak mengerti rencana Tuhan.
              Namun, kita harus tetap berpisah. Aku ingat terakhir kali aku melihat bola matamu, ada air mata ketidakrelaan di sana. Akupun tidak rela dan tidak akan pernah rela melepaskanmu, namun Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bersama, setidaknya untuk saat ini. Biarlah Tuhan yang nantinya menyatukan kita lagi. Biarlah Tuhan yang tau betapa kerasnya kita berusaha untuk kembali bersama.
            Ingatlah bahwa aku tidak akan pernah melupakanmu. Kamu sudah memiliki tempat tersendiri dihatiku. Bagaimana bisa aku melupakanmu ketika seluruh dunia terus saja membuatku mengingat semua hal tentang dirimu? Bagaimana bisa aku melupakanmu ketika langit dan bumi selalu membisikkan namamu di hatiku? Bagaimana bisa aku melupakanmu jika setiap kali aku memejamkan mata, wajahmu selalu ada di sana? Aku tau, semua ini takkan mudah.
              Terimakasih untuk waktu yang kamu berikan untukku, Radit. Rasanya, terlalu muluk jika aku meminta lebih dari ini. Tuhan sudah begitu baik mengenalkan aku pada orang yang sangat luarbiasa sepertimu. Aku tidak menyesal. Jika memang Tuhan ingin menakdirkan kita untuk bertemu di kehidupan yang lain dengan cara yang sama, aku akan tetap menerimanya karena aku hidup untuk mengenalmu. Aku hidup untuk bersamamu. Ingatlah selalu janjiku ini.
              Tidak ada perjalanan yang mudah. Semua membutuhkan proses yang panjang dan terkadang menyakitkan. Seperti kita. Aku tau, kamu menghilang untuk menghapuskan rasa sakit yang melingkupi kita berdua. Aku memahamimu namun diriku lah yang tidak bisa kupahami. Aku tau kamu menghilang agar kamu bisa  menjadikan dirimu pantas untuk bersamaku, begitupun aku. Aku tau kamu tidak ingin bertemu denganku sebelum akhirnya kita benar-benar yakin bahwa kita bisa bersama.
              Namun taukah kamu sakitnya di abaikan? Taukah kamu sakitnya diingatkan pada kenangan indah yang kamu tau tidak akan terulang lagi? Taukah kamu sakitnya berharap pada seseorang yang jelas-jelas tidak ingin berdekatan denganmu ? Mungkin inilah proses yang harus kujalani. Inilah proses menyakitkan yang harus kulalui. Aku akan menunggumu tidak perduli bersama siapa kamu sekarang, aku akan tetap disini, di balik rinai hujan menunggumu membawakan secercah cahaya.
              Di sinilah aku.
***
              Drrrssssss.....................
              Aku tersentak dan kembali ke masa sekarang, masa dimana aku sudah berada pada semester akhir pendidikanku. Suara hujan dan petir yang muncul berbarengan membuatku terkejut, kutatap kaca jendela yang kini penuh dengan butiran-butiran bening yang berlomba untuk berjatuhan ke bumi. Aku tersenyum. Aku teringat masa di mana kita pernah bermain sepeda di dalam lingkaran hujan. Aku tertawa. Kamu tertawa. Seolah-olah tidak ada lagi orang lain dalam dunia kita.
              Tok ! Tok ! Tok !
              Aku mendengar seseorang mengetuk jendela kamarku. Dengan bingung aku menghampiri jendela dan ada secarik kertas tertempel disana. Kertas yang sudah dilapisi dengan plastik sehingga derasnya hujan tidak mempengaruhi tulisan yang ada di sana.
              Mau main hujan lagi ?
              Kalimat singkat itu mampu membuatku terasa seperti tersengat ribuan volt. Siapa? Aku bergumam dalam hati dan seolah menjawab pertanyaanku, seseorang perlahan muncul dengan membawa sebuah sepeda. Kamu.
              Aku menyentuh kaca jendela dan airmataku perlahan menetes. Kamu masih orang yang sama. Kamu masih memiliki senyum yang sama walaupun kamu telah menghilang selama enam tahun lamanya. Kamu masih memiliki raut wajah yang sama walau kamu telah meninggalkan aku tanpa penjelasan selama enam tahun. Aku masih merasakannya, Radit. Kamu tidak pernah berubah.
              Aku langsung berlari ke luar dan membukakan pintu untukmu. Saat aku membuka pintu, kamu sudah berdiri tegak di sana dengan ketulusan yang terlihat jelas di matamu, dengan tatapan yang dulu sangat kukenali. Kamu tersenyum lebar padaku dan bisa kurasakan airmatamu tengah mengalir sebagaimana airmataku yang sejak tadi sudah mengalir tanpa ampun.
              “Aku merindukanmu. Terimakasih telah menunggu. Maafkan aku,” bisikmu sambil memelukku.
              Aku hanya bisa menangis di dalam pelukanmu. Tuhan telah menyatukan kita, lagi. Aku tau. Aku bisa merasakannya. Tuhan ingin kita bersama. Terimakasih Tuhan.
Poskan Komentar