WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

DINASTI FATIMIYAH

Dinasti Fatimiyah didirikan di pusat wilayah Ifriqiya (Tunisia) pada tahun 909. Pada tahun 969, dinasti ini berhasil menguasai Mesir dan memindahkan pusat kekuasaannya ke Kairo. Dinasti Fatimiyah berhaluan Syi'ah Ismailiyah. Ia mengklaim kekhalifahan atas dunia Islam dan tidak mengakui kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang berfaham Sunni.

Selama delapan dekade berikutnya, kekuasaan Dinasti Fatimiyah terus menguat dan meluas. Sepanjang paruh pertama abad ke-11, wilayah kekuasaannya mencakup Mesir, Afrika Utara (Ifriqiya), Suriah, Palestina, Yaman, dan Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah. Sementara pada masa yang sama, kekuasaan Dinasti Abbasiyah terus mengalami kemerosotan dan wilayahnya terpecah-pecah dalam banyak kesultanan yang bersifat otonom.

Dinasti Fatimiyah mengalami puncak kejayaan pada masa khalifah al-Aziz. Pada masa ini istana dibangun dengan sangat megahnya hingga mampu menampung tamu sebanyak 30.000 orang, demikian juga masjid dibangun dengan megahnya, sektor perhubungan lancar, keamanan terjamin, perekonomian dibangun, baik sektor pertanian, perdagangan maupun industri, sesuai dengan perkembangan teknologi pada masa itu.

Dinasti ini dapat maju antara lain karena: militernya kuat, administrasi pemerintahannya baik, ilmu pengetahuan berkembang, dan ekonominya stabil. Namun setelah masa al-Aziz Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran dan akhirnya hancur, setelah berkuasa selama  262 tahun.

Pada masa Khalifah al-Aziz (365-386 H/975-996 M), Dinasti Fatimiyah merupakan sebuah dinasti yang berkuasa di kawasan Benua Afrika saat ini pada pengujung tahun 200-an Hijriyah atau sekitar tahun 909 Masehi. Wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Afrika Utara, Maroko, Mesir, Suriah, dan Palestina saat ini. Dinasti ini berkuasa selama 262 tahun, dari tahun 297 H/909 M sampai tahun 567 H/1171 M. Selama kurun waktu itu, ada 14 orang khalifah yang berkuasa. Ubaidillah al-Mahdi (297-322 H/909-934 M) Ia merupakan khalifah pertama sekaligus pendiri Dinasti Fatimiyah. Dilahirkan di Kufah, Irak, pada tahun 260 H/874 M. Dia merupakan pengikut Ismailiyah. Beliau dilantik sebagai khalifah pada tahun 297 H di Qairawan, Maroko, dan mendapat gelar amirulmukminin.Pada masa kepemimpinannya, pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpusat di Maroko dengan ibu kotanya al-Manshuriyah. Dinasti Fatimiyah menjalankan roda pemerintahan di Maroko selama 24 tahun yang dipimpin oleh empat orang khalifah, termasuk Ubaidillah al-Mahdi.

Tiga orang khalifah Dinasti Fatimiyah lainnya yang pernah memerintah di Maroko adalah al-Qaim (322-323 H/934-946 M), al-Manshur (323-341 H/946-952 M), dan al-Muiz (341-362 H/952-975 M). Al-Muiz (341-362 H/952-975 M) Khalifah keempat Dinasti Fatimiyah ini sempat menjalankan roda pemerintahan dari Maroko selama beberapa tahun. Namun, karena alasan keamanan, pada awal tahun 972 M, beliau pergi meninggalkan Maroko menuju ke arah timur (wilayah Mesir saat ini).Sebelum berhasil memasuki Kota Kairo, Khalifah al-Muiz sempat mendirikan istana di wilayah Iskandariyah. Baru pada tahun 973 M, pasukan Dinasti Fatimiyah yang dipimpin oleh panglima perang Jauhar Siqli berhasil menaklukkan Kota Kairo. Sejak saat itu, pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpindah ke Kairo. Saat memerintah di Mesir, al-Muiz mulai meninggalkan kebijakan toleransi yang selama ini ditunjukkan oleh Jauhar dan mulai mempertegas identitas Syiahnya. Misalnya, menerapkan fikih Ismailiyah, terutama ajaran Ja'far as-Sadiq; menetapkan azan khas Syiah pada azan shalat Subuh; peringatan Ghadir Khumm (tempat Nabi Muhammad SAW menyatakan sesuatu yang diyakini oleh kaum Syiah sebagai penunjukan Ali sebagai khalifah setelah Nabi SAW wafat); dan perayaan 10 Muharram (peristiwa terbunuhnya Husain, cucu Rasulullah SAW). Pada masa pemerintahan al-Muiz, Dinasti Fatimiyah terus menghadapi persoalan stabilitas keamanan di dua wilayah kekuasaan mereka di Suriah dan Palestina.

Pada pertengahan abad ke-11, keadaan berbalik. Dinasti Fatimiyah mulai mengalami kemerosotan dan dinasti Abbasiyah mulai menguat kembali. Sejak tahun 1050-an, kekuasaan politik dan militer Kekhalifahan Abbasiyah dikendalikan oleh orang-orang Turki Bani Saljuk. Mereka berhasil mengambil alih wilayah Suriah, Palestina, dan Hijaz dari tangan Fatimiyah. Proses ini sempat terhenti dengan terjadinya perpecahan di kalangan emir-emir Turki Saljuk dan terjadinya Perang Salib pada penghujung abad ke-11. Bagaimanapun, Dinasti Fatimiyah tidak pernah bangkit lagi setelah itu dan keadaannya terus mundur hingga tumbangnya dinasti ini pada tahun 1171.

Pada akhir masa Dinasti Fatimiyah, wilayah kekuasaannya hanya tinggal meliputi Mesir saja. Konflik dan intrik politik semakin sering terjadi. Pergantian kekuasaan antara wazir (perdana menteri) yang lama kepada wazir yang baru sering diwarnai oleh pertumpahan darah. Khalifah Fatimiyah sendiri sering terlibat dalam intrik politik menjatuhkan wazirnya dan mengangkat wazir yang baru dan membuat keadaan di negeri itu menjadi tidak stabil.

Bersambung...
Posting Komentar