WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (15)

 NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (15)
Propaganda Quraisy

Tinggal satu senjata lagi yang mereka gunakan, yaitu propaganda. Propaganda  melawan akidah dan ajaran Islam disertai tuduhan-tuduhan yang dialamatkan  kepada Rasulullah. Propaganda yang tidak hanya terbatas pada Makkah saja, namun seluruh semenanjung  jazirah serta semua penduduknya. Dengan propaganda semacam itu, Quraisy dapat memerangi Muhammad lagi dengan harapan akan lebih ampuh daripada gangguan dan siksaan yang dialami pengikut-pengikutnya. 
Namun kuatnya kebenaran dalam bentuk yang jelas dan sederhana yang dilukiskan melalui ucapan Rasulullah, lebih tinggi dari yang mereka katakan. Hari demi hari, Islam makin tersebar di kalangan orang-orang Arab.
Tufail bin Amr Ad-Dausi adalah seorang bangsawan dan penyair kenamaan. Ketika tiba di Makkah, ia segera dihubungi oleh Quraisy dengan peringatan agar berhati-hati terhadap Muhammad dan kata-katanya yang memesonakan. Mereka khawatir jika peristiwa sebagaimana yang terjadi di Makkah akan menimpanya juga. Jadi sebaiknya jangan mengajak dan jangan mendengarkan Muhammad bicara.
Hari itu Tufail pergi ke Ka'bah. Kebetulan Nabi Muhammad juga sedang ada di sana. Ketika ia mendengarkan kata-kata Rasulullah, Tufail terpesona oleh kata-kata yang beliau ucapkan.  "Biar aku mati, aku seorang cendekiawan, penyair," katanya dalam hati. "Aku dapat mengenal mana yang baik dan mana pula yang buruk. Apa salahnya kalau aku mendengarkan sendiri apa yang akan dikatakan orang itu. Jika ternyata baik akan kuterima, kalau buruk akan kutinggalkan."
Diikutinya Rasulullah sampai di rumah. Lalu dikatakannya apa yang terlintas  dalam hatinya. Rasulullah menawarkan Islam kepadanya dan dibacakannya ayat-ayat  Al-Qur'an. Thufail langsung menerima Islam dan dinyatakannya kebenaran itu dengan mengucapkan kalimat syahadat.

Berakhirnya Blokade

Selama tiga tahun berturut-turut piagam yang dibuat pihak Quraisy untuk memboikot  Muhammad dan mengepung kaum Muslimin itu tetap berlaku. Pada saat  itu Rasulullah dan keluarga serta sahabat-sahabatnya sudah mengungsi ke celah-celah gunung di luar kota Makkah, dengan mengalami pelbagai macam  penderitaan. Sehingga untuk mendapatkan bahan makanan sekadar menahan rasa lapar pun tidak ada.
Rasulullah dan kaum Muslimin tidak diberikan kesempatan bergaul dan bercakap-cakap dengan orang lain, kecuali dalam bulan-bulan suci. Pada waktu itu orang-orang Arab berdatangan ke Makkah berziarah, segala permusuhan dihentikan—tak ada pembunuhan, tak ada penganiayaan, tak ada permusuhan, tak ada balas dendam.
Pada bulan-bulan itu Rasulullah turun, mengajak orang-orang Arab itu kepada agama Allah, diberitahukannya kepada mereka arti pahala dan arti siksa. Segala penderitaan yang dialami Rasulullah demi dakwah itu justru telah menjadi penolongnya.
Mereka yang telah mendengar tentang itu lebih  bersimpati  kepadanya,  lebih suka mereka menerima ajakannya. Blokade yang dilakukan Quraisy kepadanya, kesabaran dan ketabahan hatinya memikul semua itu demi risalahnya, telah memikat hati orang banyak.
Hisyam bin Amr termasuk salah seorang dari kalangan Quraisy yang paling simpati kepada Muslimin. Tengah malam ia datang membawa unta yang dimuati makanan atau gandum.  Ketika ia sudah sampai di depan celah gunung itu, dilepaskannya tali untanya lalu dipacunya supaya terus masuk ke tempat kaum Muslimin.
Merasa kesal melihat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya dianiaya sedemikian rupa, Hisyam pergi menemui Zuhair bin Abi Umayyah (Bani Makhzum). Ibu Zuhair adalah Atika binti Abdul Muthalib (Bani Hasyim).
"Zuhair," kata Hisyam, "Kau sudi menikmati makanan, pakaian dan wanita-wanita. Padahal seperti kau ketahui, keluarga ibumu tidak boleh berhubungan dengan orang lain, tidak boleh berjual-beli, tidak boleh saling mengawinkan. Aku bersumpah, bahwa kalau mereka itu keluargaku dari pihak ibu—keluarga Abul Hakam bin Hisyam—lalu aku diajak seperti mengajak kau, tentu akan kutolak."


Keduanya kemudian sepakat akan sama-sama membatalkan piagam itu. Tapi  meskipun begitu harus mendapat dukungan juga dari yang lain, dan secara rahasia  mereka harus diyakinkan. Pendirian kedua orang itu kemudian disetujui oleh Mut'im bin Adi (Naufal), Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan Zam'ah bin Al-Aswad (keduanya Bani Asad). Mereka berlima lalu sepakat akan mengatasi persoalan piagam itu dan akan membatalkannya.
Dengan tujuh kali mengelilingi Ka'bah keesokannya pagi-pagi Zuhair bin Umayyah  berseru kepada orang banyak, "Hai penduduk Makkah! Kamu sekalian enak-enak makan dan berpakaian padahal Bani Hasyim binasa tidak dapat mengadakan hubungan dagang. Demi Allah, aku tidak akan duduk sebelum piagam yang kejam ini dirobek!"
Abu Jahal, begitu mendengar ucapan itu, langsung berteriak, "Bohong! Tidak akan kita robek!"
Saat itu juga terdengar suara-suara Zam'ah, Abu Al-Bakhtari, Mut'im dan Amr bin Hisyam mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair.
Abu Jahal segera menyadari bahwa peristiwa ini akan terselesaikan juga malam itu dan orang pun sudah menyetujui. Kalau dia menentang mereka, tentu akan timbul bencana. Merasa khawatir, ia lalu cepat-cepat pergi.
Ketika Mut'im bersiap akan merobek piagam tersebut, dilihatnya sudah mulai dimakan rayap, kecuali pada bagian pembukaannya yang berbunyi: "Atas nama-Mu ya Allah..."
Dengan demikian terdapat kesempatan bagi Rasulullah dan sahabat-sahabat untuk pergi meninggalkan celah bukit yang curam itu dan kembali ke Makkah. Kesempatan berjual-beli dengan Quraisy juga terbuka. Sekalipun demikian, hubungan antara keduanya masih seperti dulu; masing-masing siap-siaga bila permusuhan itu sewaktu-waktu memuncak lagi.
Setelah piagam disobek, Rasulullah dan pengikut-pengikutnya pun turun gunung. Seruannya dikumandangkan lagi kepada penduduk Makkah dan kepada kabilah-kabilah yang pada bulan-bulan suci itu datang berziarah ke Makkah. 
Meskipun ajakan Rasulullah sudah tersiar ke seluruh kabilah Arab di samping banyaknya mereka yang sudah menjadi pengikutnya, namun para sahabatnya masih tidak selamat dari siksaan Quraisy.
Poskan Komentar