WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (17)

Mu’jizat Isra’ dan Mi’raj

Malam itu Rasulullah sedang berada di  rumah saudara sepupunya, Hindun, putri Abu Thalib yang dipanggil Ummu  Hani'.
Ketika itu Hindun berkata, "Malam itu Rasulullah bermalam di rumah saya. Selesai shalat akhir malam, ia tidur dan kami pun tidur. Pada waktu sebelum fajar, Rasulullah  sudah  membangunkan kami. Sesudah melakukan ibadah pagi bersama-sama kami, ia berkata, 'Ummu Hani', aku sudah shalat akhir malam bersama kamu sekalian seperti yang kau lihat di lembah ini. Kemudian aku ke Baitul Maqdis (Yerusalem) dan shalat di sana. Sekarang aku shalat siang bersama-sama kamu seperti kau lihat.' Kataku, 'Rasulullah, janganlah ceritakan hal ini kepada orang lain. Orang akan mendustakan dan mengganggumu lagi!' Rasulullah menjawab, 'Tapi aku harus menceritakan kepada mereka."
Isra’ ialah perjalanan Rasulullah dari Masjidil al-Haram di Mekkah ke Masjidil al-Aqsha di al-Quds. Mi’raj ialah kenaikan Rasulullah menembus beberapa lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk, Malaikat, manusia dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam.
Kisah perjalanan ini disebutkan oleh Bukhari dan Muslim secara shahihnya. Disebutkan bahwa dalam perjalanan ini Rasulullah menunggang Buroq yakni satu jenis binatang yang lebih besar sedikit dari keledai dan lebih kecil sedikit dari unta. Binatang ini berjalan dengan langkah sejauh mata memandang. Disebutkan pula bahwa Rasulullah memasuki Masjidil al-Aqsha lalu shalat dua raka’at di dalamnya. Kemudian Jibril datang kepadanya seraya membawa segelas khamar dan segelas susu. Lalu Rasulullah memilih susu. Setelah itu Jibril berkomentar, “Engkau telah memilih fitrah.“ Dalam perjalanan ini Rasulullah naik ke langit pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya sampai ke Sidratul-Muntaha. Di sinilah kemudian Allah mewahyukan kepadanya apa yang telah diwahyukan di antaranya kewajiban shalat lima waktu atas kaum Muslim, dimana pada awalnya sebanyak lima puluh kali sehari semalam. Pada pagi harinya di malam Isra’ itu Jibril datang kepada Rasulullah mengajarkan cara shalat dan menjelaskan waktu-waktunya.

Setelah Peristiwa Isra’ dan Mi’raj
Rasulullah menyampaikan apa yang disaksikan kepada penduduk Mekkah. Tetapi oleh kaum musyrik berita ini didustakan dan ditertawakan. Sehingga sebagian mereka menantang Rasulullah untuk menggambarkan Baitul -Maqdis, jika benar ia telah pergi dan melakukan shalat di dalamnya. Padahal ketika menziarahinya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Rasulullah untuk menghafal bentuknya dan menghitung tiang-tiangnya. Kemudian Allah SWT memperlihatkan bentuk dan gambar Baitul-maqdis di hadapan Rasulullah sehingga dengan mudah beliau menjelaskannya secara rinci.
Orang yang mengatakan bahwa Isra' dan Mi’raj Rasulullah dengan ruh itu berpegang pada keterangan Ummu Hani'  ini, dan juga kepada yang pernah dikatakan oleh Aisyah, "Jasad Rasulullah tidak hilang, tetapi Allah menjadikan Isra' itu dengan ruhnya."
Juga Muawiyah bin Abi Sufyan ketika ditanya tentang Isra' Rasul mengatakan, itu adalah mimpi yang benar dari Tuhan. Sebaliknya orang yang berpendapat, bahwa Isra' dari Makkah ke Baitul Maqdis itu dengan jasad, landasannya adalah apa yang pernah  dikatakan oleh Rasulullah, bahwa dalam Isra' itu beliau berada di pedalaman. Sedang Mikraj ke langit adalah dengan ruh. Di samping mereka itu, ada lagi pendapat bahwa  Isra' dan Mikraj itu keduanya dengan jasad. Polemik sekitar perbedaan pendapat ini banyak terjadi di kalangan ahli-ahli ilmu kalam dan ribuan pula tulisan-tulisan yang sudah dikemukakan orang.
Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :
"Ketika kaum Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Isma’il), lalu Allah memperlihatkan Baitul-Maqdis kepadaku. Kemudian aku kabarkan kepada mereka tentang tiang-tiangnya dari apa yang aku lihat."
Jadi barangsiapa yang mau menyatakan pendapatnya, bahwa Isra' dan Mikraj itu keduanya dengan ruh, maka dasarnya adalah seperti yang sudah berulang-ulang pula disebutkan dalam Al-Qur'an dan diucapkan Rasulullah. "...Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: 'Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa." (QS Al-Kahfi: 110).
Orang-orang Arab penduduk Makkah tidak dapat memahami semua pengertian ini. Itulah pula sebabnya, tatkala soal Isra' itu disampaikan oleh Rasulullah kepada  mereka, mereka pun menanggapinya dengan beragam. Apa yang dikatakannya itu kemudian menimbulkan kesangsian juga pada beberapa orang pengikutnya. Mereka yang tadinya sudah percaya, berbalik arah.
Menurut mereka, masalah ini sudah  jelas. Perjalanan kafilah yang terus-menerus pun antara Makkah-Syam memakan waktu sebulan pergi dan sebulan pulang. Mana mungkin Muhammad hanya satu malam saja pergi-pulang ke Makkah? Tidak sedikit mereka yang sudah Islam itu kemudian berbalik murtad.

Abu Bakar dan Julukan Ash-Shiddiq
Berita Isra' dan Mi’raj Rasulullah ini oleh sebagian kaum musyrik disampaikan kepada Abu Bakar dengan harapan dia akan menolaknya.
"Kalian berdusta," kata Abu Bakar.
"Sungguh, dia di masjid sedang bicara dengan orang banyak," kata mereka. 


"Dan kalaupun itu yang dikatakannya,"  kata Abu Bakr lagi, "Tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, aku percaya. Ini lebih lagi dari yang kamu herankan."
Abu Bakar lalu mendatangi Rasulullah dan mendengarkan beliau melukiskan Baitul Maqdis. Abu Bakar sudah pernah berkunjung ke kota itu. Setelah Rasulullah selesai melukiskan keadaan masjidnya, Abu Bakar berkata tegas, "Rasulullah, saya percaya!"
Sejak itu Rasulullah memanggil Abu Bakar dengan "Ash-Shiddiq".
Poskan Komentar