WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

DINASTI FATIMIYAH (4)

Nuruddin Zanki, Harapan Terakhir
Kini harapan khalifah Fatimiyah dan masyarakat Mesir terpusat pada Nuruddin Zanki. Mereka merasa hanya Nuruddin yang bisa diharapkan untuk membebaskan mereka dari ancaman Yerusalem. Maka Khalifah Fatimiyah mulai mengirimkan surat secara teratur kepada Nuruddin Zanki, memintanya untuk mengirim pasukan lagi ke Mesir. Tapi Nuruddin tidak ingin bertindak gegabah. Ia sudah mengirim Shirkuh dan pasukannya dua kali, tapi negeri itu tidak mudah ditaklukkan, terlebih dengan adanya campur tangan Yerusalem. Nuruddin tidak menanggapi permintaan itu dan memutuskan untuk mengamati keadaan.

Sikap Nuruddin yang memilih untuk bersabar sangat tepat, karena Almaric kemudian melakukan kesalahan fatal. Pada bulan Oktober 1168 banyak peziarah yang datang dari Eropa ke Yerusalem. Adanya tenaga baru ini membuat Amalric tergoda untuk segera menyerang dan menguasai Mesir. Ia pun mengerahkan pasukannya masuk ke Mesir. Kota pertama yang mereka kuasai adalah kota Bilbays. Namun di kota ini para peziarah Eropa yang menyertai pasukan itu melakukan tindakan yang kejam. Mereka membantai penduduk kota itu, termasuk perempuan dan anak-anak, Muslim dan Kristen. Sikap ini jelas sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Shirkuh dan pasukannya.

Kejadian itu membuat penduduk Kairo bertekad untuk mempertahankan kota mereka mati-matian. Karena jika kota itu jatuh ke tangan musuh, tentu nasib mereka akan sama dengan penduduk Bilbays. Pada saat yang sama, Khalifah Fatimiyah, al-Adid, mengirimkan sebuah surat kepada Nuruddin Zanki dan mendesaknya untuk menolong Mesir. Kali ini Nuruddin bertindak cepat. Ia memerintahkan Shrikuh untuk berangkat lagi ke Mesir. Shirkuh meminta Shalahuddin menyertainya dalam misi ini yang diikuti dengan perasaan enggan oleh keponakannya itu.

Perjalanan pasukan Shirkuh yang ketiga kali ke Mesir memberikan kemenangan yang gemilang. Pasukan Amalric sudah sempat mengepung Kairo, tetapi merasa frustasi melihat kegigihan masyarakat Kairo bertahan. Amalric merasa khawatir pasukan Shirkuh sewaktu-waktu akan tiba dari Suriah dan berperang melawan pasukannya. Ia tentu tak pernah melupakan kegesitan dan kemahiran Shirkuh dalam mengatur strategi perang. Maka pada awal Januari 1169, sebelum pasukan Shirkuh tiba di tempat itu, Amalric menarik pasukannya dari Kairo dan kembali ke Yerusalem.

Dengan demikian, ketika Shirkuh dan pasukannya tiba di Kairo, musuh telah meninggalkan kota itu. Khalifah Fatimiyah dan penduduk Mesir menyambut Shirkuh sebagai pahlawan mereka. Shawar kemudian ditangkap dan dihukum mati. Shirkuh ditetapkan sebagai wazir Mesir yang baru.

Shirkuh sendiri ternyata tidak lama memerintah sebagai wazir negeri Mesir. Dua bulan kemudian ia meninggal dunia. Shalahuddin ditetapkan sebagai wazir yang baru. Shalahuddin kelak menghapuskan Kekhalifahan Fatimiyah pada tahun (1171), meneruskan kepemimpinan Nuruddin Zanki (1174), mendirikan Dinasti Ayyubiyah, dan membebaskan Yerusalem dari tangan orang-orang Frank (kekuatan salib) (1187).
Posting Komentar