WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (24)

Pecahnya Perang Badar
Pada pagi Jumat 17 Ramadan itulah kedua pasukan itu saling berhadap-hadapan. Rasulullah sendiri tampil memimpin pasukan Muslimin, mengatur barisan. Tetapi ketika dilihatnya pasukan Quraisy begitu besar, sedang anak buahnya sedikit sekali, disamping perlengkapan perang yang sangat lemah dibanding dengan perlengkapan Quraisy, beliau kembali ke pondoknya ditemani oleh Abu Bakar. Beliau sangat cemas dengan peristiwa yang bakal terjadi hari itu.
Rasulullah pun menghadapkan wajahnya ke kiblat, dengan seluruh jiwanya menghadapkan diri kepada Allah, membisikkan permohonan dalam hatinya agar Dia memberikan pertolongan. Rasulullah tenggelam dalam doanya.
Dalam keadaan Nabi dan sahabat-sahabatnya yang demikian inilah kedua ayat ini turun: "Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Anfaal: 65-66).
Keadaan kaum Muslimin ternyata bertambah kuat setelah Rasulullah kembali dan membangkitkan semangat mereka. Beliau turut hadir di tengah-tengah mereka, mendorong mereka mengadakan perlawanan terhadap musuh. Beliau menyerukan kepada mereka, bahwa surga telah menanti mereka yang terjun ke medang perang dan terbunuh oleh musuh. Kaum Muslimin pun mengarahkan perhatian mereka pada pemuka-pemuka dan pemimpin-pemimpin Quraisy. Kaum Muslimin hendak mengikis habis sebagai balasan yang seimbang tatkala mereka disiksa di Makkah dulu.
Tatkala Rasulullah melihat bahwa Allah telah melaksanakan janji-Nya dan setelah nyata pula kemenangan berada di pihak umat Islam, beliau kembali ke pondoknya. Orang-orang Quraisy kabur, namun dikejar terus oleh Muslimin. Yang tidak terbunuh dan tak berhasil melarikan diri, ditawan.
Inilah Perang Badar, yang kemudian telah memberikan tempat yang stabil kepada umat Islam di seluruh tanah Arab, dan yang merupakan sebuah pendahuluan lahirnya persatuan seluruh jazirah di bawah naungan Islam.
Dengan perasaan dongkol orang-orang Makkah lari tunggang-langgang. Mereka sudah tak dapat mengangkat muka lagi. Bila mata mereka tertumbuk pada salah seorang kawan sendiri, karena rasa malunya ia segera membuang muka, mengingat nasib buruk yang telah menimpa mereka semua.
Harta Rampasan dan Tawanan Perang
Keesokan harinya, ketika kaum Muslimin sudah bersiap-siap pulang ke Madinah, timbullah pertanyaan seputar masalah harta rampasan perang. Masing-masing pihak merasa berhak karena menganggap diri paling berjasa dalam peperangan yang berakhir dengan kemenangan itu.
Rasulullah menyuruh mengembalikan semua harta rampasan yang ada di tangan mereka, dan dimintanya supaya dibawa agar ia dapat memberikan pendapat atau akan ada ketentuan Tuhan yang akan menjadi keputusan.
Rasulullah kemudian mengutus Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah ke Madinah guna menyampaikan berita gembira kepada penduduk tentang kemenangan yang telah dicapai kaum Muslimin. Sedangkan beliau sendiri dan para sahabat berangkat pula menuju Madinah dengan membawa tawanan dan rampasan perang yang diperolehnya dari kaum musyrik. Harta rampasan ini diurus oleh Abdullah bin Ka'ab.
Mereka pun berangkat. Setelah menyeberangi Shafra', pada sebuah bukit berpasir Rasulullah berhenti. Di tempat ini, rampasan perang yang sudah ditentukan Allah bagi Muslimin itu dibagi rata. Beberapa ahli sejarah mengatakan, pembagian kepada mereka itu sesudah dikurangi seperlimanya sesuai dengan firman Allah: "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnus sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS Al-Anfaal: 41).
Sehari sebelum Rasulullah dan kaum Muslimin sampai di Madinah kedua utusannya Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah sudah lebih dulu sampai. Mereka masing-masing memasuki kota dari jurusan yang berlain-lainan. Dan di atas unta yang dikendarainya itu Abdullah mengumumkan dan memberikan kabar gembira kepada kaum Anshar tentang kemenangan Rasulullah dan sahabat-sahabat, sambil menyebutkan siapa-siapa dari pihak musyrik yang terbunuh.
Begitu juga Zaid bin Haritsah melakukan hal yang sama sambil menunggang Al-Qashwa', unta kendaraan Nabi. Kaum Muslimin bergembira ria. Mereka berkumpul, dan mereka yang masih berada dalam rumah pun keluar beramai-ramai menyambut berita kemenangan besar ini.
Poskan Komentar