WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Selasa, 15 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (4)

Penggalian Sumur Zam-Zam

Tugas menyediakan bahan makanan dan air minum bagi jamaah haji merupakan hal yang sangat sulit pada waktu itu. Untuk mengatasi kesulitan air tersebut, Abdul Muthalib berencana untuk menggali kembali sumur (zam-zam) yang telah lama tertimbun. Ini adalah pekerjaan sulit dan banyak memerlukan tenaga. Pada waktu itu Abdul Muthalib baru mempunyai seorang anak saja, Harith. Sedangkan untuk minta bantuan orang lain sukar diharapkan.

Untuk melaksanakan rencana tersebut Abdul Muthalib berdoa agar diberi anak yang banyak. Bahkan ia bernadzar akan menyembelih salah seorang anaknya untuk kurban bila doanya dikabulkan. Beberapa tahun kemudian lahirlah anak-anaknya, di antaranya adalah Abu Thalib, Abbas, Abu Lahab, Zubair, dan Abdullah. Penggalian sumur pun dapat dilaksanakan oleh Abdul Muthalib dengan bantuan putra-putranya.

Setelah penggalian sumur selesai, Abdul Muthalib berniat melaksanakan nadzarnya, yaitu menyembelih salah seorang putranya sebagai kurban. Dengan disaksikan banyak orang, Abdul Muthalib membawa anak-anaknya ke dekat Ka’bah, lalu diundi siapa yang akan dijadikan kurban. Dari undian itu ditentukan bahwa Abdullah yang akan di-kurban-kan.

Abdul Muthalib kemudian membawa Abdullah ke tempat penyembelihan di dekat sumur zam-zam, dan bersiap-siap untuk menyembelih Abdullah. Masyarakat menentang rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankan agar menghubungi perempuan ahli nujum di Yatsrib. Di hadapan wanita ini dilakukan undian lagi, yang akhirnya Abdullah tidak jadi disembelih. Sebagai gantinya disembelih 100 ekor unta. Peristiwa ini menjadikan nama Abdul Muthalib dan Abdullah terkenal di seluruh tanah Arab. Tidak lama kemudian Abdullah menikah dengan Aminah dan tinggal di Mekkah.

Kelahiran Sang Calon Nabi

Ketika itu, Aminah sedang hamil, dan kemudian, seperti  wanita  lain ia pun melahirkan. Selesai  bersalin dikirimnya berita kepada Abdul Muthalib  di  Ka'bah,  bahwa  ia   melahirkan   seorang  anak laki-laki. 
Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu  dibawanya ke Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad.
Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya  bayi  itu  kepada  ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya  dari  Keluarga Sa'ad (Banu  Sa'ad),  untuk  kemudian  menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Makkah.
Kebiasaan Menyusukan Anak pada Orang Lain

Pada hari  ketujuh  kelahirannya  itu  Abdul Muthalib meminta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa  anak  itu  diberi  nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek  moyang.  "Kuinginkan dia akan menjadi  orang  yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi," jawab Abdul Muthalib.
Aminah masih menunggu  akan  menyerahkan  anaknya  itu  kepada salah  seorang  Keluarga Sa'ad yang akan menyusukan anaknya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan  bangsawan-bangsawan  Arab di    Makkah.  Adat demikian ini masih berlaku pada bangsawan-bangsawan Makkah. Pada hari kedelapan sesudah dilahirkan  anak  itu pun  dikirimkan  ke  pedalaman  dan  baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun.  Di  kalangan  kabilah-kabilah  pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'ad.
Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi  mereka  adalah  saudara susuan.
Akhirnya  datang  juga  wanita-wanita  Keluarga Sa'ad yang akan menyusukan itu ke Makkah. Mereka memang mencari bayi yang  akan mereka  susukan.  Akan  tetapi  mereka menghindari  anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa  dari sang  ayah. 
Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu, di antara  mereka  itu tak  ada  yang  mau  mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat mereka harapkan.
Akan tetapi Halimah binti Abi Dzua'ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi  lain  sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang seorang  wanita  yang  kurang  mampu,  ibu-ibu  lain pun  tidak menghiraukannya.
Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Makkah. Halimah berkata kepada Harits bin Abdul Uzza suaminya, "Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga."
"Baiklah," jawab  suaminya. "Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita."
Halimah  kemudian  mengambil  Muhammad  dan  dibawanya pergi bersama-sama   dengan  teman-temannya   ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa  mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan  susunya pun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Poskan Komentar