WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (6)

Diasuh Abu  Thalib

Pengasuhan Muhammad dipegang oleh Abu  Thalib,  sekalipun  dia bukan yang tertua di antara saudara-saudaranya. Saudara tertua adalah Harits, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya Abbas yang mampu, tapi dia kikir sekali dengan hartanya. Oleh karena itu, ia hanya memegang urusan siqaya (pengairan) tanpa mengurus rifada  (makanan). Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu Thalib mempunyai  perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan  kalau Abdul Muthalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepadanya.
Abu Thalib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abdul Muthalib juga. Karena kecintaannya itu  ia  mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah  yang lebih menarik hati pamannya.

Pertemuan dengan Rahib Bahira
Pernah pada suatu ketika ia akan pergi ke Syam membawa dagangan—ketika itu usia Muhammad baru duabelas tahun—mengingat sulitnya perjalanan menyeberangi padang pasir, tak terpikirkan olehnya akan  membawa  Muhammad. Akan  tetapi  Muhammad  yang  dengan  ikhlas  menyatakan  akan menemani pamannya  itu. Hal inilah yang menghilangkan  sikap ragu-ragu dalam hati Abu Thalib.
Anak  itu  lalu  turut  serta  dalam rombongan kafilah, hingga sampai di Bushra di  sebelah  selatan  Syam.  Dalam  buku-buku riwayat  hidup  Muhammad  diceritakan,  bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira.

Bahira adalah seorang rahib / pendeta yang banyak mengetahui Injil dan ahli tentang masalah-maslah kenasranian Kemudian Bahira melihat Muhammad. Lalu ia mulai mengamati Nabi dan mengajak berbicara. Kemudian Bahira menoleh kepada Abu Thalib dan menanyakan kepadanya, “Apa status anak ini di sisimu?“ Abu Thalib menjawab, “Anakku ( Abu Thalib memanggil Nabi saw dengan panggilan anak karena kecintaannya yang mendalam).“ Bahira bertanya kepadanya , "Dia bukan anakmu. Tidak sepatutnya ayah anak ini masih hidup.“ Abu Thalib berkata ,“ Dia adalah anak saudaraku.“ Bahira bertanya ,“Apa yang dilakukan ayahnya ?“ Abu Thalib menjawab,“ Dia telah meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya.“ Bahira berkata, “Anda benar, bawalah dia pulang ke negerinya, dan jagalah dia dari orang-orang Yahudi. Jika mereka melihatnya di sini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu ini akan memegang perkara besar.“ Kemudian Abu Thalib cepat-cepat membawanya kembali ke Mekkah.

Tampaknya Abu Thalib tidak banyak membawa harta dari perjalanannya itu. Ia tidak lagi mengadakan perjalanan demikian. Malah sudah merasa cukup dengan yang sudah diperolehnya itu. Ia menetap di Makkah mengasuh anak-anaknya yang banyak  sekalipun dengan harta yang tidak  seberapa.

Muhammad tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia  dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Makkah dengan keluarga,  kadang  pergi  bersama  mereka   ke pasar-pasar yang berdekatan dengan Ukaz, Majanna dan Dzu'l Majaz,  mendengarkan sajak-sajak  yang  dibawakan  oleh penyair-penyair Mudhahhabat  dan  Mu'allaqat.

Muhammad dan Khadijah

Suatu ketika Muhammad mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita  pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Bani) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali menikah dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Makkah terkaya. Ia menjalankan bisnisnya dengan bantuan sang ayah, Khuwailid, dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya.
Tatkala Abu Thalib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil keponakannya—yang ketika itu sudah berumur dua puluh lima tahun.
"Anakku," kata Abu Thalib, "Aku bukan orang  berpunya.  Keadaan makin menekan  kita juga. Aku mendengar,  bahwa  Khadijah mengupah orang dengan dua ekor  anak  unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"
"Terserah paman," jawab Muhammad.
Abu Talib pun pergi mengunjungi Khadijah:
"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Thalib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."
"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai,  akan  kukabulkan,  apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.
Kembalilah sang paman kepada keponakannya dengan  menceritakan peristiwa  itu.  "Ini  adalah  rejeki  yang  dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya.
Setelah mendapat nasihat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara,  budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itu pun berangkat   menuju Syam. Perjalanan ini menghidupkan kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini membuatnya lebih banyak bermenung, berpikir tentang segala yang pernah dilihat dan didengar sebelumnya; tentang peribadatan dan  kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar sekeliling Makkah.
Posting Komentar