WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (7)

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (7)


Pernikahan Muhammad dan Khadijah

Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar  memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara bisnis yang lebih  menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Setelah tiba waktunya kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.

Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Mar'z Zahran. Ketika itu Maisara   berkata, "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."
Muhammad berangkat dan tengah  hari  sudah  sampai  di  Makkah. Ketika   itu  Khadijah  sedang  berada  di  ruang  atas.  Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan  sudah  memasuki  halaman rumahnya,  ia  turun  dan  menyambutnya.  Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta  laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah  gembira dan  tertarik  sekali  mendengarkan. 
Sesudah  itu,  Maisara pun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tinggi budi pekertinya. Hal ini menambah  pengetahuan  Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Makkah yang besar jasanya.
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia—yang sudah berusia empat puluh tahun dan telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy—tertarik  juga hatinya  mengawini  pemuda  ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia  membicarakan  hal itu  kepada  saudaranya  yang  perempuan—kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa  binti  Munya—kata  sumber lain.

Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata, "Kenapa kau tidak mau menikah?"
"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan,"  jawab Muhammad.
"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kau terima?"
"Siapa itu?"
Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata, "Khadijah!"
"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan  kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.
Setelah pertanyaan itu Nufaisa berkata, "Serahkan hal itu kepadaku."
Maka Muhammad pun menyatakan persetujuannya. Tak  lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari pernikahan.
Kemudian pernikahan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah,  Umar  bin  Asad,  sebab  Khuwailid  ayahnya sudah meninggal  sebelum  Perang  Fijar.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Muhammad memberi mahar 20 ekor unta, namun ada pula yang mengatakan 100 ekor. Sumber lain menyebutkan bahwa Abu Thaliblah yang menyerahkan mahar berupa unta tersebut. Allahu A’lam. Yang jelas bahwa unta di zaman itu adalah kendaraan termahal setelah kuda, sehingga 20 unta setara dengan 20 buah mobil mewah di masa kini).
Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan sebagai suami-isteri dan ibu-bapak. Suami-isteri yang harmonis dan sebagai ibu-bapak yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak, sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapak ketika masih kecil.
Tentang Khadijah

Khadijah, menurut riwayat Ibnu al-Atsir dan Ibnu Hisyam adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Sebelum menikah dengan Nabi saw, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin A’idz at Tamimi dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi, namanya Hindun bin Zurarah.

Mengenai keutamaan dan kedudukan Khadijah dalam kehidupan Rasulullah SAW, sesungguhnya ia tetap mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah sepanjang hidupnya. Telah disebutkan di dalam riwayat terbaik pada zamannya.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Ali RA. pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik wanita (langit) adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita (bumi) adalah Khadijah binti Khuwailid.“

Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah RA., ia berkata : "Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi saw kecuali kepada Khadijah, sekalipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Adalah Rasulullah saw, apabila menyembelih kambing, ia berpesan, “Kirimkan daging kepada teman-teman Khadijah.“ Pada suatu hari aku memarahinya, lalu aku katakan, “Khadijah?“ Kemudian Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya.“

Ahmad dan Thabarani meriwayatkan dari Masruq dari Aisyah RA., ia berkata : "Hampir Rasulullah SAW tidak pernah keluar rumah sehingga menyebut Khadijah dan memujinya. Pada suatu hari Rasulullah SAW menyebutnya, sehingga menimbulkan kecemburuanku. Lalu aku katakan, “Bukankah ia hanya seorang tua yang Allah telah menggantinya untuk kakanda orang yang lebih baik darinya?“ Kemudian Rasulullah saw marah seraya bersabda :“ Demi Allah, Allah tiada menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya. "Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakanku, dia membelaku dengan hartanya, ketika orang-orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak sama sekali dari istri selainnya.“

Kesan yang didapatkan dari pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah ialah, bahwa Rasulullah sama sekali tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadiah. Seandainya Rasulullah sangat memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau mencari orang yang lebih muda, atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya. Nampaknya Rasulullah menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya di antara kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendapatkan julukan ‘Afifah Thairah (wanita suci) pada masa jahiliyah.

Pernikahan ini berlangsung hingga Khadijah meninggal dunia pada usia enampuluh lima tahun, sementara itu Rasulullah telah mendekati usia 50 tahun, tanpa berpikir selama masa ini untuk menikah dengan wanita atau gadis lain. Padahal usia antara 20 - 50 tahun merupakan masa bergejolaknya keinginan atau kecenderungan untuk menambah istri karena dorongan syahwat.
Posting Komentar