WELCOME


WELCOME TO MY BLOG KAWASAN ANAK RANTAU BENGKULU ASLI (ARABEAS)ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID &(ADIZAHARA.COM CINTA YANG INDAH ADALAH CINTA YANG MENGUTAMAKAN KESADARAN UNTUK SALING MENJAGA SATU SAMA LAIN

ARABEAS.BLOGSPOT.CO.ID

Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by arabeas.blogspot.co.id

THAKS ALL



JANGAN LUPA FOLLOW MY BLOG ADIZAHARA.COM UNTUK SELALU MENDAPATKAN UPDATE TIPS DAN TRIK TERBARUTERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI BLOG INI

Senin, 14 Desember 2015

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (9)

NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم : HiStory (9)

Gua Hira’ dan Permulaan Wahyu Sang Nabi Terakhir

Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Muhammad kecenderungan untuk melakukan ‘uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila’ (menyendiri) di gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Mekkah). Ia menyendiri dan beribadah di gua tersebut selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Kemudian beliau kembali ke rumahnya sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan Ikhtila’-nya di gua Hira’. Demikianlah Muhammad terus melakukannya sampai turun wahyu kepadanya ketika beliau sedang melakukan ‘uzlah.

‘Uzlah dilakukan Muhammad menjelang bi’tsah (pengangkatan sebagai Rasul) ini memiliki makna dan urgensi yang sangat besar dalam kehidupan kaum Muslim pada umumnya dan pada da’i pada khususnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah RA. menceritakan cara permulaan wahyu, ia berkata : "Wahyu pertama diterima oleh Muhammad -Rasulullah SAW- dimulai dengan suatu mimpi yang benar. Dalam mimpi itu beliau melihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari. Kemudian beliau digemarkan (oleh Allah) untuk melakukan khalwah (‘uzlah). Beliau melakukan khalwah di gua Hira’ melakukan ibadah selama beberapa malam, kemudian pulang kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal. Demikianlah berulang kali hingga suatu saat beliau dikejutkan dengan datangnya kebenaran di dalam gua Hira’. Pada suatu hari datanglah Malaikat lalu berkata, “Bacalah“. Beliau menjawab, “Aku tidak dapat membaca.“ Muhammad menceritakan lebih lanjut, "Malaikat itu lalu mendekati aku dan memelukku sehingga aku merasa lemah sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, "Bacalah“ Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca“ . Ia mendekati aku lagi dan mendekapku, sehingga aku merasa tidak berdaya sama sekali, kemudian aku dilepaskan. Ia berkata lagi, “Bacalah“ Aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca.“ Untuk yang ketiga kalinya ia mendekati aku dan memelukku hingga aku merasa lemas, kemudian aku dilepaskan. Selanjutnya ia berkata lagi, “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang telah menciptakan .. menciptakan manusia dari segumpal darah...“ dan seterusnya.

Rasulullah segera pulang daam keadaan gemetar sekujur badannya menemui Khadijah lalu berkata, “Selimutilah aku ... selimutilah aku ..“ Kemudian beliau diselimuti hingga hilang rasa takutnya. Setelah itu beliau berkata kepada Khadijah, “Hai Khadijah, tahukah engkau mengapa aku tadi begitu?“ Lalu beliau menceritakan apa yang baru dialaminya. Selanjutnya beliau berkata: "Aku sesungguhnya khawatir terhadap diriku (dari gangguan makhluk jin)." Khadijah menjawab :"Tidak! Bergembiralah! Demi Allah sesungguhnya tidak akan membuat anda kecewa. Anda seorang yang suka menyambung tali keluarga, selalu menolong orang yang susah, menghormati tamu dan membela orang yang berdiri di atas kebenaran."

*****

Khadijah pergi menjumpai saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal.  Waraqah adalah  seorang  penganut  agama  Nasrani  yang sudah mengenal Injil dan  sudah  pula  menerjemahkannya  sebagian  ke  dalam bahasa  Arab. Khadijah menuturkan apa yang dilihat dan didengar Muhammad.
Waraqah  menekur  sebentar, kemudian berkata, "Maha  Kudus Ia, Maha Kudus. Demi Dia yang memegang  hidup  Waraqah.  Khadijah,  percayalah! Dia telah menerima  Namus  Besar seperti yang pernah diterima Musa. Dan sungguh dia adalah Nabi umat  ini.  Katakan  kepadanya  supaya tetap tabah!"
Khadijah pulang. Dilihatnya Rasulullah masih tidur. Dalam tidur yang demikian itu, tiba-tiba ia menggigil, napasnya terlihat sesak dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya. Ia terbangun, manakala didengarnya malaikat datang membawakan wahyu kepadanya: "Hai orang yang berselimut! Bangunlah dan sampaikan  peringatan. Dan  agungkan  Tuhanmu.  Pakaianmu pun bersihkan. Dan hindarkan perbuatan dosa. Jangan  kau  memberi,  karena  ingin  menerima lebih  banyak. Dan demi Tuhanmu, tabahkan hatimu." (QS Al-Muddatstsir: 17).
"Waktu tidur dan istirahat  sudah  tak  ada  lagi,  Khadijah," katanya. "Jibril   membawa perintah supaya  aku  memberi peringatan kepada umat manusia, mengajak  mereka,  dan  supaya mereka  beribadah  hanya  kepada  Allah.  Tapi siapa yang akan kuajak? Dan siapa pula yang akan mendengarkan?"
Sesudah  peristiwa  itu,  pada  suatu hari Rasulullah pergi akan mengelilingi  Ka'bah.  Di tempat itu Waraqah menjumpainya. Sesudah Rasulullah menceritakan keadaannya, Waraqah berkata, "Demi Dia Yang memegang hidup Waraqah.  Engkau  adalah Nabi  atas umat ini. Engkau telah menerima Namus Besar seperti yang  pernah  disampaikan  kepada  Musa.  Pastilah   kau   akan didustakan   orang,   akan   disiksa,  akan  diusir  dan  akan diperangi. Kalau sampai pada waktu itu aku masih hidup,  pasti aku  akan  membela  yang  di pihak Allah dengan pembelaan yang sudah diketahui-Nya pula."
Sekarang Rasulullah berpikir, bagaimana akan mengajak Quraisy supaya turut beriman, padahal ia tahu benar mereka sangat kuat mempertahankan  kebatilan  itu.  Mereka bersedia berperang dan mati untuk itu. Ditambah  lagi  mereka  masih  sekeluarga  dan sanak famili yang dekat.
Sementara ia dalam kekhawatiran, sesudah sekian  lama  terhenti, tiba-tiba datang Jibril membawa firman Allah: "Demi pagi cerah yang gemilang. Dan  demi  malam  bila senyap kelam.  Tuhanmu  tidak  meninggalkan  kau,  juga  tidak merasa benci. Dan sungguh, hari kemudian  itu  lebih  baik  buat  kau daripada  yang  sekarang.  Dan  akan segera ada pemberian dari Tuhan kepadamu. Maka engkau pun akan bersenang  hati. Bukankah Ia mendapati kau seorang yatim,  lalu  diberi-Nya  tempat berlindung?  Dan  Ia  mendapati  kau  tak  tahu  jalan,   lalu diberi-Nya  kau  petunjuk?  Karena  itu,  terhadap  anak yatim,  jangan kau bersikap bengis. Dan tentang orang  yang  meminta, jangan  kau  tolak.  Dan tentang kurnia Tuhanmu, hendaklah kau sebarkan." (QS Adh-Dhuha: 1-11)
Allah SWT kemudian mengajarkan Rasulullah shalat,   maka  ia pun shalat,  Khadijah  ikut  pula shalat. Selain puteri-puterinya, tinggal bersama keluarga itu Ali  bin Abi Talib  sebagai anak muda yang belum baligh.
Tatkala Rasulullah dan Khadijah sedang shalat, tiba-tiba Ali menyeruak masuk.  Dilihatnya kedua orang itu sedang ruku' dan sujud serta membaca beberapa ayat  Al-Qur'an yang sampai pada waktu itu sudah diwahyukan kepadanya.
Ali berdiri tertegun,  "Kepada  siapa  kalian  sujud?" tanyanya setelah selesai shalat.
"Kami  sujud  kepada  Allah," jawab Rasulullah. "Yang mengutusku menjadi nabi dan memerintahkan aku mengajak manusia menyembah Allah."
Lalu Rasulullah pun mengajak sepupunya itu beribadah kepada Allah semata, tiada bersekutu serta menerima agama yang dibawa Nabi utusan-Nya, dengan meninggalkan berhala-berhala semacam Lata dan Uzza. Muhammad lalu  membacakan  beberapa  ayat  Qur'an.  Ali sangat terpesona karena ayat-ayat itu luar biasa indahnya.
Posting Komentar